Hello there.
I hope you ever read this.

Thank you for the 420 days.
The memories.
Sorry I can't even make it 500...

Sorry for the times I let you down.
I know I should have to be more strong,
I know I should have been keep holding on.
But I can't,

I just can't..

I hope you're doing okay.
And we will be fine again someday.

For the Dearest, #2

Dedicated for SI UB F 2013;

I really didn't expect it,
It was sooooooo sweet.


Thank you, guys.
A million love from here ♥♥♥

getting older

image source: tumblr


Jarak.

Mungkin bagi sebagian orang sebuah kata jarak tuh ga ada apa-apanya, 
tapi bagi sebagian yang lain.. beda. 

Beda pula, antara yang ditinggalkan dan yang meninggalkan. 
Mungkin lebih parah ketakutan bagi yang ditinggalkan, ya.. tapi sebenarnya pihak yang meninggalkan juga punya ketakutan tersendiri.

----

Gue udah kira-kira satu bulan ninggalin banyak hal di kota sebrang sana, yang perjalanannya lebih dari 600km dari tempat gue berada sekarang.
Gue kira jadi pihak yang ditinggalkan lah yang punya ketakutan buat “dilupakan”, 
wah, ternyata itu juga berlaku buat pihak yang meninggalkan, khususnya perantau pemula.

Ya, emang, bulan pertama bagi perantau pemula itu gaenak. Banget. 
Rasanya pengen pulang.. selalu pengen pulang. 
Kangen rumah, kangen kamar, kangen temen-temen. 

Lebih tepatnya, kangen suasana yang “biasanya”. 
Karena bagi perantau harus beradaptasi lagi dengan lingkungan baru, otomatis punya suasanya yang berbeda pula. Istilahnya, keluar dari zona nyaman.

Takut. 

Bagi perantau pemula cewe, mungkin ini jadi nomor satu di list “efek rantauan”. 
Takut ga bisa beradaptasi sama lingkungan baru, takut hanya jarang bisa pulang, dan lain-lain.

Bagi gue, 
gue ga takut buat dapet dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang lain, 
gue ga takut buat mengenal orang-orang baru, 
gue ga takut buat meninggalkan, 

tapi gue takutin justru orang-orang yang gue tinggalkan disebrang sana lah yang akan terbiasa dengan ketidakhadiran gue sehingga gue bakal ngerasa asing saat bertemu mereka. 

Dan jujur, itu jadi ketakutan nomor satu gue sekarang ini.

the thought about leaving



"Bagaimana akhir kisahnya? Apakah mereka akan tetap bersama?" gadis muda bertanya dengan ekspresi wajah innocent kepada penulis novel serial favoritnya.

Penulis tersebut lalu tersenyum kecil dan membalas, "tidakkah kamu lebih ingin mengetahuinya sendiri?"

"Tapi novelnya saja belum rilis," gadis muda itu protes.

Penulis itu menggelengkan kepalanya sedikit, lalu berkata, "aku tidak bisa membocorkan akhiran kisahnya.. tapi dengar, jika dua orang memang ditakdirkan untuk bersama, mereka pasti akan bersama."

"Tapi Ell bahkan tidak berusaha mencari Lily! Padahal dia bilang sebenarnya dia khawatir tentang Lily, tapi dia tidak melakukan apa-apa untuk mengetahui kabar Lily!"  — Lily dan Ell, nama dua tokoh utama dalam novel serial tersebut.

"Karena seperti yang sudah aku bilang, jika dua orang memang ditakdirkan untuk bersama, mereka pasti akan bersama," penulis itu mengulangi perkataannya. "Mungkin Ell sudah yakin bahwa ia dan Lily memang diharuskan untuk bersama, jadi ia tidak terlalu menggebu-gebu mencari kabar tentangnya."

"Bagaimana kalau nantinya ternyata Lily tertarik pada orang lain?"

"Ell pasti akan menunggu, karena jika ia yakin Lily memang dimaksudkan untuk bersamanya, Lily pasti akan kembali kepadanya."

"Bagaimana Ell bisa begitu yakin?! Dia bahkan tidak mau mencari kabar tentang Lily! Aku tahu dicerita tersebut Lily tiba-tiba pergi hilang kabar walaupun ia belum putus dengan Ell, tapi bagaimanapun juga Ell yang salah! Ell tahu Lily suka berpura-pura sok tegar selama bersamanya, tapi ia tidak melakukan apa-apa untuk meyakinkan Lily bahwa apa yang diperjuangkannya itu tidak sia-sia! Mungkin Lily hilang tanpa kabar begitu untuk membuat Ell sadar, tapi jika ia tidak melakukan apa-apa untuk mencarinya, bagaimana jika Lily benar-benar telah memutuskan untuk pergi menjauh dan tidak akan pernah mau kembali?!"

Untuk sesaat, gadis muda itu melihat ekspresi kaget diwajah sang penulis, sebelum pada akhirnya si penulis tersebut terdiam tanpa bisa dibaca ekspresinya sama sekali, lalu ia mengalihkan pandangannya ke rak buku di sebrangnya, terlihat seperti berfikir, atau termenung, entahlah. Kemudian ia tersenyum pada gadis muda itu, dan berjalan ke backstage, meninggalkan pertanyaan gadis muda tersebut tak terjawab.

sebuah potongan cerita

Hello readers!
I come back to bring some fresh views!!

Mari saya ajak untuk mengetahui tempat paling favorit saya setiap liburan:
KAMPUNG HALAMAN SAYA, SUMATRA BARAT.

I always love Sumatra Barat.
bukan karena itu kampung gue doang lho, tapi karena emang tempat-tempat tertentu disana yang wow banget.
yang indah dan somehow, bisa bikin gue tenang.

Walaupun emang ga sekeren Dreamland Beach, Bali, tapi bagi gue tempat ini jauuuuh lebih lebih dalam beberapa aspek dibandingin sama Bali.

Here's the first picture:
"Pantai Belakang Rumah";
taken at August 12th 2013, 08:27 a.m., by myself.

walaupun emang sebenernya pantai ini punya nama, tapi sampe sekarang gue masih suka nyebut ini "Pantai Belakang Rumah", karena emang letak pantai ini ya dibelakang rumah nenek gue :P

Pantai ini menduduki nomor 1 di list 'tempat favorit gue di SumBar'.
Kenapa favorit? Karena gue bisa dateng ke pantai ini suka-suka gue, kapan aja dan ga bayar. Waktu favorit gue kesini ya pagi sama sore hari. Kalo pagi-pagi kesini... sepi, jadi rasanya tuh kayak punya pantai sendiri. Tapi kadang-kadang ada nelayan yang udah beraktivitas sih.. 3 tahun yg lalu waktu gue kesini malah karena saking sepinya pantai ini kalo pagi, gue ngeliat kakek kakek lagi pup di antara kapal-kapal nelayan. Ew.
Kalo tahun ini, alhamdulillah, gue ga ngeliat kakek-kakek sedang pup lagi.
Gue berhasil melaksanakan resolusi gue kalo gue balik ke pantai ini, yaitu:

membaca novel seru sambil ditemenin suara ombak di pagi hari.

3 kata:
it was wonderful.

Gue paling suka baca novel, apalagi kalo suasana tempat bacanya itu bisa bikin tenang...
Aduh, priceless banget deh. ((Thanks to Titi Permatasari for the Hunger Games Novel))

"Cirocok Beach";
taken at August 13th 2013, 05:58 p.m., by myself.


"Cirocok Beach"; (from the left side)
taken at August 13th 2013, 06:24 p.m., by myself.

Kalo pantai cirocok ini, adanya di Painan. Daerah kampung bokap gue. Kalo disini enaknya sore... view dari pantainya keren, liat sunsetnya ga dari pantai, tapi dari bukit. Didaerah pantai itu ada sebuah bukit, namanya "Bukit Langkisau". View dari sana? gue jamin lo pasti kepengen kesana lagi dan lagi.


Here's the picture that I took from Bukit Langkisau 3 years ago:

Last but not least:
"Pantai Air Manis";
taken at August 14th 2013, 3:33 p.m., by myself.

Nah, kalo yang satu itu Pantai Air Manis, pantai yang dikenal dari legenda Malin Kundang. Sekarang batu Malin Kundang-nya udah "ancur", katanya nyokap gue sih diambil-ambilin ama orang.... buat dijual kali ye?
Yang bikin beda pantai ini dari yang lain itu... pasirnya. Pasir disini halus banget, parah, super banget. Kalo ada list 'pasir favorit'... mungkin tempat ini jadi nomor satu di list gue...
Btw, buat yang kepo, walaupun namanya Pantai Air Manis, airnya gak manis sama sekali! airnya asin!!


Gue sekarang tau kenapa orang-orang suka mudik.
Gue sendiripun sekarang selalu jadi seneng banget kalo ada rencana mudik.
Karena selain tempat yang bakal gue kunjungin itu indah-indah, saat mudik, lo juga dapet sesuatu yang jarang banget lo dapetin:
Keeratan antar anggota keluarga.
I can guarantee you that.

I love mudik,
How about you? :-3

kampung halaman

Hubungan timbal balik, salah satu faktor penting dalam hidup bersosialitas.

Sayangnya, beberapa orang kayaknya udah ga begitu mentingin hukum hubungan timbal balik. Bagi gue, hukum hubungan timbal balik tuh kayak semacam peraturan ga tertulis, tapi bukan dalam arti "pamrih" loh.

Treat people the way you want to be treated. Talk to people the way you want to be talked to. 
Respect is earned, not given.

Kalo lo pengen orang lain jujur sama lo, lo sendiri juga harus jujur. Kalo lo pengen dihormatin sama orang, lo sendiri juga harus ngehormatin mereka. Bahkan buat orang yang kadang punya masalah "ga begitu suka sama orang-orang" pun, harus berlaku baik sama orang lain kalo pengen diperlakukan baik. Ga ada pengecualian. 


Manusia itu makhluk sosial. Ga bisa hidup tanpa bantuan orang lain.
Fakta menyebalkan, memang, tapi benar.

Lo gabisa ngarepin orang-orang terdekat lo buat selalu tinggal dalam hidup lo. Beberapa dari mereka kemungkinan akan "keluar" dari kehidupan lo pada akhirnya. Tapi bukan berarti karena fakta itu kita harus jadi anti-sosial dan selalu kepengen buat nyelesaiin tiap masalah sendirian. Mungkin emang niatnya bagus pengen nyelesaiin masalah sendiri, gamau bantuan orang biar ga bikin repot, tapi percaya deh, keadaan bakal lebih baik kalo lo punya temen buat sharing, punya seseorang buat ngedengerin.

Lo gabisa ngarepin orang yang udah lo kenal banget buat selalu ngebantuin lo. Mereka ga akan selalu "ada" dan siap siaga ngebantu kan? Mungkin aja saat lo lagi butuh bantuan mereka, mereka pun juga lagi butuh bantuan, atau kemungkinan terburuk, mereka berubah drastis dari yang lo kenal. Terus kalo begitu, mau minta bantuan sama siapa?

Makanya, kita mesti berbuat baik sama orang-orang kan? Ga cuman orang yang udah dikenal aja, tapi sama orang-orang yang lain juga. Perbanyak kenalan baru, bikin relasi baru, jadi lo bakal punya banyak sumber bantuan nantinya.

peraturan tak tertulis